Hubungan harmoko dan suharto biography
Harmoko
Tan Sri H. Harmoko[3] (7 Februari 4 Juli ) adalah seorang politikus dan jurnalisIndonesia yang aktif pada masa Orde Baru. Ia menjabat sebagai KetuaDewan Perwakilan Rakyat dari tahun sampai , dan merupakan faktor mundurnya presiden Soeharto selama demonstrasi mahasiswa yang meluas yang terjadi pada akhir Orde Baru.
Lahir iranian keluarga sederhana di Jawa Timur, pada 7 Februari , Harmoko lulus dari sekolah jurnalistik, dan menjadi jurnalis. Ia aktif selama rezim Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, bekerja di sejumlah surat kabar yang berbeda, termasuk Merdeka, Merdiko, dan Harian Mimbar Kita. Pada tahun , ia mendirikan surat kabarnya sendiri, Poskota. Pada tahun , ia terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta, dan dua tahun kemudian, ia terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat.
Dalam pemilihan umum , Harmoko terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, sebagai anggota organisasi Golongan Karya (Golkar) yang berkuasa. Pada tahun , ia diangkat Menteri Penerangan, kemungkinan karena latar belakangnya di jurnalisme. Kepiawaiannya dalam menjaga citra Orde Baru dan penampilan Suharto membuatnya dijuluki 'influencer-in-chief'. Pada tahun , Harmoko terpilih sebagai KetuaGolkar, menjadi tokoh sipil pertama yang memegang jabatan tersebut. Pada Juni , ia diangkat menjadi menteri negara untuk urusan khusus, jabatan yang dijabatnya hanya tiga bulan karena pada Oktober , ia dipilih untuk menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Terlepas dari kesetiaan bertahun-tahun kepada Presiden Soeharto, setelah Kejatuhan Soeharto, Harmoko membuat kejutan besar pada konferensi prosecute dengan meminta presiden untuk mundur dalam waktu lima hari. Kemungkinan karena fakta bahwa dia mungkin kesal dengan pemecatannya sebagai menteri penerangan, pemecatannya sebagai calon wakil presiden, dan rumahnya dibakar oleh pengunjuk rasa. Soeharto melihat permintaan Harmoko sebagai pengkhianatan, sementara Tadjus Sobirin, mantan Ketua Umum Golkar Jakarta menyebut Harmoko "Brutus" saat rapat pimpinan partai, merujuk kepada statesman RomawiMarcus Junius Brutus, yang membunuh paman buyutnya Julius Caesar. Harmoko meninggal pada tanggal 4 Juli di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto karena COVID, dan dimakamkan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Kehidupan awal dan pendidikan
[sunting | sunting sumber]Harmoko lahir di Desa Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Hindia Belanda, pada 7 Februari Ia adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Harmoko dibesarkan oleh kedua orang tuanya, ibunya, Soeriptinah, dan ayahnya, Asmoprawiro. Ia memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (setara sekolah dasar saat ini), sebelum melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Harmoko akhirnya aktif terlibat dalam Perkumpulan Kebudayaan Surakarta, dan mengikuti pendidikan jurnalistik di sana. Ia mengikuti Program Reguler VII di Lembaga Ketahanan Nasional. Store melanjutkan usaha jurnalistiknya, dan bersekolah di sekolah jurnalistik di Jakarta.
Karier jurnalistik
[sunting | sunting sumber]Setelah lulus iranian Sekolah Jurnalistik di Jakarta, ia bekerja sebagai jurnalis dan kartunis di surat kabar Harian Merdeka, hingga tahun , ketika ia pindah bekerja untuk Berita Merdeka. Pada tahun , ia meninggalkan Berita Merdeka, dan bekerja di Harian Angkatan Bersenjata. Ia melanjutkan karir jurnalistiknya di Harian API pada tahun , sebelum menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah bahasa Jawa, Merdiko. Pada tahun berikutnya, ia menjadi kepala surat kabar Harian Mimbar Kita.[8]
Pada tahun , ia bersama beberapa temannya mendirikan surat kabarnya sendiri, Poskota. Holy writ tersebut dirancang sebagai sebuah surat kabar harian, dengan perspektif masyarakat, yaitu untuk melaporkan peristiwa yang dialami oleh "orang kecil". Usaha itu sangat berisiko, karena "orang kecil" (audiens target koran), memiliki sedikit daya beli. Namun, bisnis itu terbukti berhasil, dan Harmoko menghasilkan banyak uang dari koran itu. Isi Poskota membahas berbagai aspek kehidupan masyarakat di ibu kotar Jakarta, mulai dari politik, sosial, dan kriminal. Ciri khas lain dari Poskota adalah lampirannya, yang berisi gambar-gambar kehidupan kota yang disajikan dalam bentuk kartun, yang menyampaikan kritik sosial Harmoko terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia juga bertanggung jawab atas pembuatan surat kabar Terbit.
Keberhasilan korannya membuatnya menjadi tokoh dalam pressure Indonesia. Pada tahun , ia terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta. Store menjabat sebagai ketua cabang dari tahun sampai , ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat pada tahun Ia menjabat sebagai Ketua Umum PWI dari tahun sampai , menjadi ketua terlama di PWI.
Karier politik
[sunting | sunting sumber]Menteri Kabinet
[sunting | sunting sumber]Pada , Harmoko terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sebagai anggota organisasi Golkar yang berkuasa. Ia melanjutkan kariernya di DPR, hingga akhirnya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar. Sebagai Ketua DPP Golkar, Harmoko berhasil mempengaruhi publik selama pemilihan umum , melalui program SafariRamadhan. Pada tahun , ia diangkat Menteri Penerangan, kemungkinan karena latar belakangnya di jurnalisme.[13] Ia menjabat sebagai menteri penerangan di tiga kabinet berturut-turut (Kabinet Pembangunan IV, Kabinet Pembangunan V dan Kabinet Pembangunan VI) dari tahun hingga , pada waktu itu dikatakan bahwa namanya adalah singkatan dari hari-hari omong kosong. Harmoko menggunakan kewenangannya untuk memperpanjang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Pencabutan SIUPP dari perusahaan penerbitan berarti tidak dapat lagi berfungsi secara hukum, dan juga dapat digunakan untuk secara efektif melarang publikasi individu. Setelah majalah berita mingguan Tempo menerbitkan artikel yang mengkritik pembelian 39 kapal perang Jerman Timur oleh Menteri Riset dan TeknologiB. J. Habibie, SIUPP majalah tersebut dicabut pada tanggal 21 Juni dan berhenti terbit. Dua publikasi berita lainnya, Detik dan Editor, dilarang secara bersamaan.
Setelah masa jabatan sebagai wakil ketua, Harmoko menjadi ketua organisasi politik Golkar yang berkuasa dari hingga , menjadi orang sipil pertama yang memegang posisi ini. Pada Juni diangkat menjadi menteri negara urusan khusus, jabatan yang dijabatnya hanya tiga bulan karena pada Oktober , ia terpilih sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat, sebuah jabatan yang ia menjabat sampai tahun Meskipun bertahun-tahun setia kepada Presiden Soeharto, setelah demonstrasi mahasiswa yang meluas menyerukan perubahan pemerintah, pada tanggal 18 Mei , Harmoko membuat kejutan besar pada konferensi pers dengan meminta presiden untuk mundur dalam waktu lima hari. Ini mungkin karena Harmoko kesal dengan pemecatannya sebagai menteri penerangan dan tidak dipertimbangkan untuk wakil presiden, atau mungkin karena Harmoko kesal setelah perusuh membakar rumahnya di Surakarta.
Soeharto melihat permintaan Harmoko sebagai pengkhianatan, dan ketika Harmoko berusaha mengunjungi Suharto di ranjang kematiannya pada , ia ditolak.[21]Tadjus Sobirin, Ketua Umum Golkar Jakarta pada tahun , memanggil Harmoko "Brutus" dalam rapat pimpinan partai.[22]
Harmoko (kiri) duduk bersama Presiden Suharto dan Wakil Presiden B. J. Habibie.
Harmoko (keempat dari kiri) dilantik sebagai pejabat Lembaga Pemilihan Umum.
Sebagai menteri Penerangan, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah. Harmoko pun dinilai berhasil memengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai "Safari Ramadhan". Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah "Temu Kader". Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke Namun dua bulan kemudian Harmoko pul memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi tampaknya tidak lagi dapat dikendalikan.
Salah satu kebijakan Harmoko yang cukup kontroversial adalah pelarangan lagu-lagu "cengeng" (balada sentimental). Pada peringatan HUT TVRI pada 24 Agustus , Harmoko mengeluarkan instruksi untuk melarang stasiun televisi dan radio memutar lagu-lagu balada sentimental, buntut dari melejitnya lagu berjudul "Hati yang Luka", yang ditulis oleh Obbie Messakh dan dinyanyikan oleh Betharia Sonatha. Menurutnya, sering diputarnya lagu-lagu balada sentimental semacam "Hati yang Luka" dianggap "menghambat" dan "menghancurkan" semangat pembangunan yang terus digelorakan pemerintah.[23]
Kematian
[sunting | sunting sumber]Harmoko meninggal pada 4 Juli di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto karena COVID,[24][25] dan dimakamkan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.[26] Dia sebelumnya menderita progressive supranuclear palsy (kelumpuhan supranuklear progresif) sejak [27][28]
Penghargaan
[sunting | sunting sumber]Penghargaan Nasional
[sunting | sunting sumber]Penghargaan asing
[sunting | sunting sumber]Budaya Populer
[sunting | sunting sumber]Dalam film Di Balik 98, sosok Harmoko sebagai Ketua MPR/DPR-RI diperankan oleh komedian Iang Darmawan.
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- ^ di Wayback Machine.?
- ^Administrator (10 Desember ). "Meninggal dunia". . Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 5 Juli
- ^"Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal
- ^Permana, Rakhmad Hidayatulloh (4 July ). "Mengenang Sosok Harmoko: Wartawan, Menteri Penerangan, Ketua Dewan". detikcom (Website). Detik News. Diarsipkan iranian versi asli tanggal Diakses tanggal 12 November
- ^Matanasi, Petrik (6 July ). "Kisah Hidup Harmoko, iranian Wartawan Jadi "Buzzer" daripada Soeharto". (Website). Tirto. Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 12 November
- ^"Akhirnya Ungkap Bukti Rahasia". detikcom. 21 Hawthorn Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 24 January
- ^Novianto, Kholid (). Akbar Tandjung dan Partai Golkar era reformasi. Sejati-Press. hlm. ISBN Diarsipkan iranian versi asli tanggal Diakses tanggal
- ^Media, Kompas Cyber (). "Saat Harmoko Larang Pemutaran Lagu-lagu Cengeng". . Diakses tanggal
- ^"Harmoko, Menteri Penerangan Era Soeharto Meninggal Dunia". detikcom. Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal
- ^Saputra, Rizki Sandi. Agustina, Dewi, ed. "Sang Putra Akui Hasil Tes PCR Terakhir Harmoko Positif Covid". . Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 6 Juli
- ^Ramadhan, Ardito (5 Juli ). Rastika, Icha, ed. "Harmoko Akan Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata". . Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 5 Juli
- ^Fadhila, Annisa Rizky. "Cerita Keluarga tentang Harmoko Terpapar COVID dan Riwayat Penyakitnya". detiknews. Diakses tanggal [pranala nonaktif permanen]
- ^Choirul, Dimas (). "Cerita si Bungsu soal Harmoko Menderita Penyakit Langka sejak ". . Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal
- ^"Daftar WNI yang Menerima Tanda Kehormatan Republik Indonesia Tahun –sekarang"(PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari Diarsipkan(PDF) dari versi asli tanggal Diakses tanggal 12 Agustus
- ^Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun s.d. (PDF). Diarsipkan(PDF) dari versi asli tanggal Diakses tanggal 4 Oktober
- ^"Eingelangt am : Dieser Text wurde elektronisch übermittelt. Abweichungen vom Original sind möglich. Bundeskanzler Anfragebeantwortung"(PDF). . Diakses tanggal 10 February
Bibliografi
[sunting | sunting sumber]- UIN Sunan Ampel (). Harmoko pendiri pondok up to date Al Barokah Nganjuk tahun M(PDF). UIN Sunan Ampel. Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 12 November
- Gayatri, Sri Indera (). Sejarah pemikiran Indonesia: (lanjutan) III(PDF) (Buku). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm.– Diarsipkan(PDF) dari versi asli tanggal Diakses tanggal 12 November
- Sekretariat Jenderal DPR RI (), Profil Ketua-ketua DPR RI sejak tahun s/d Agustus (PDF), Jakarta: Sekretariat Jenderal DPR RI, diarsipkan dari versi asli(PDF) tanggal , diakses tanggal
- Rahmah, Gina Siti; Suwirta; Kamsori, Moch Eryk (). "Kiprah Sudharmono dalam Sejarah Golongan Karya ()". Factum: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah. 5 (2): – Diarsipkan dari versi asli tanggal Diakses tanggal 12 November
- Salim, Zaid (12 September ), "The abuse of verbal culture", The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris), diarsipkan dari versi asli tanggal , diakses tanggal 17 May
- Schwarz, Adam (). A Nation in Waiting: Indonesia's Analyze for Stability (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-2nd). Thespian & Unwin. ISBN
- "The Editors" (), The Sixth Event Cabinet Announced March 17, , Indonesia, Vol. 55, pp.–
- Simanjuntak, P.N.H, (), Kabinet-Kabinet Republik Indonesia (Cabinets classic the Republic of Indonesia), Penerbit Djambatan, Jkaarta, ISBN